Pernah mendengar analogi tentang sekumpulan kepiting yang diletakkan di dalam sebuah ember?
Konon, kita tidak perlu khawatir kepiting-kepiting tersebut akan keluar meskipun embernya tidak ditutup. Sebab ketika ada satu kepiting yang mencoba memanjat keluar, kepiting lainnya justru akan menariknya kembali ke bawah. Alhasil, tidak ada satu pun yang berhasil keluar dari ember tersebut.
Terlepas dari apakah perilaku kepiting memang selalu seperti itu, menurut saya analogi ini cukup menarik jika kita hubungkan dengan lingkungan pergaulan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita bertemu orang-orang yang memiliki karakter seperti kepiting dalam ember tadi. Mereka tidak terlalu nyaman ketika melihat orang lain mulai bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika seseorang mencoba mempelajari sesuatu yang baru, membangun usaha, atau mengambil langkah berbeda, bukannya mendapatkan dukungan, dia justru diremehkan atau ditarik kembali untuk mengikuti kebiasaan kelompoknya.
Saya rasa hampir setiap orang pernah menghadapi situasi semacam ini. Ketika kita mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitar, selalu ada kemungkinan muncul komentar yang membuat kita ragu terhadap keputusan sendiri. Apalagi jika perubahan tersebut menuntut kita untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang sebelumnya dianggap normal oleh orang-orang di sekitar kita.
Namun, menurut saya ada satu hal yang perlu dibedakan. Tidak semua orang yang mengkritik atau tidak setuju dengan keputusan kita otomatis termasuk tipe kepiting dalam ember.
Bisa jadi mereka memang melihat risiko yang belum kita sadari. Kritik yang disampaikan dengan alasan masuk akal justru bisa membantu kita membuat keputusan yang lebih baik. Yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang terus-menerus berusaha menghambat pertumbuhan orang lain, bukan karena ada alasan yang rasional, melainkan karena dia sendiri tidak nyaman melihat perubahan tersebut.
Dari sini saya semakin memahami bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh cukup besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak. Ketika kita sering berinteraksi dengan orang-orang yang suka belajar, terbuka terhadap gagasan baru, dan memiliki semangat untuk berkembang, sedikit banyak kita juga akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Sebaliknya, ketika kita terlalu lama berada dalam lingkungan yang terbiasa meremehkan setiap usaha untuk berkembang, bukan tidak mungkin kita justru ikut menganggap bahwa mencoba sesuatu yang lebih baik adalah tindakan yang aneh atau bahkan tidak perlu dilakukan.
Karena itu, menurut saya penting untuk mencari lingkungan yang lebih menantang kita untuk bertumbuh. Lingkungan yang anggotanya bisa saling mendukung, saling mengingatkan, dan bahkan saling bersaing dalam hal yang positif.
Bukan berarti kita harus selalu berkumpul dengan orang-orang yang lebih sukses atau meninggalkan teman-teman yang belum berhasil. Justru lingkungan yang baik adalah lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap anggotanya untuk berkembang bersama. Ketika salah satu berhasil mencapai sesuatu, keberhasilan tersebut menjadi inspirasi bagi yang lain, bukan dianggap sebagai ancaman.
Ada sebuah ungkapan bahwa elang akan berkumpul dengan elang, sementara burung gereja akan berkumpul dengan burung gereja.
Bagi saya, ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa lingkungan yang kita pilih akan ikut membentuk kebiasaan, cara berpikir, bahkan standar yang kita anggap normal dalam kehidupan.
Maka sesekali mungkin kita perlu melihat kembali orang-orang yang paling sering berada di sekitar kita. Apakah lingkungan tersebut membuat kita semakin bersemangat untuk belajar dan memperbaiki diri, atau justru membuat kita ragu setiap kali ingin mencoba sesuatu yang baru?
Karena kalau kita ingin bertumbuh, sudah semestinya kita mencari lingkungan yang juga memberikan ruang untuk bertumbuh.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menarik satu sama lain hingga akhirnya tidak ada seorang pun yang berhasil keluar dari ember.
