Prolog — Lift, Learn, Lead
Tentu saya bukan atlet. Body goal pun sampai hari ini juga belum achieve. Saya bukan personal trainer, bukan ahli olahraga, dan rasanya belum cukup pantas untuk memberikan nasihat kepada orang lain mengenai bagaimana cara membentuk tubuh yang ideal.
Saya hanya seorang pengusaha yang kebetulan memiliki kebiasaan pergi ke gym, berlari, dan sesekali berenang. Awalnya, sebagaimana kebanyakan orang, tujuan saya cukup sederhana. Ingin memiliki tubuh yang lebih sehat, lebih kuat, dan kalau memungkinkan sedikit lebih enak dilihat ketika bercermin.
Namun, semakin lama menjalani aktivitas tersebut, saya justru menemukan sesuatu yang rasanya jauh lebih berharga daripada sekadar perubahan bentuk tubuh. Ada banyak pelajaran yang ternyata memiliki hubungan cukup dekat dengan kehidupan saya sebagai seorang pengusaha. Bahkan beberapa di antaranya membantu saya memahami kembali pengalaman-pengalaman yang sebelumnya sulit saya jelaskan.
Menariknya, saya justru sudah jauh lebih dahulu mengenal berbagai macam beban sebelum mulai serius mengangkat beban di gym.
Dalam perjalanan berbisnis, saya pernah membangun usaha hingga memiliki sekitar 150 outlet. Sebuah pencapaian yang pada saat itu tentu terasa luar biasa. Namun, hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun, sebagian besar outlet tersebut akhirnya harus tutup.
Bayangkan bagaimana rasanya membangun sesuatu yang awalnya berkembang begitu cepat, kemudian menyaksikan satu demi satu bagian dari usaha tersebut berhenti beroperasi. Ada keputusan yang ternyata keliru, ekspektasi yang tidak terpenuhi, masalah keuangan, serta berbagai konsekuensi yang harus diselesaikan meskipun bisnisnya sudah tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Dan tentu saja, ada orang-orang lain yang ikut terdampak oleh keputusan yang saya ambil.
Pengalaman tersebut hanyalah salah satu bagian dari perjalanan jatuh bangun saya di dunia bisnis. Secara keseluruhan, saya sudah mencoba berbisnis sebelas kali, dengan sepuluh di antaranya berakhir dalam kegagalan.
Karena itu, ketika berbicara mengenai beban, saya sebenarnya sudah cukup akrab dengannya. Hanya saja, beban yang saya kenal dahulu bukan berbentuk barbell, dumbbell, ataupun piringan besi. Melainkan tanggung jawab, keputusan, ekspektasi, rasa malu, dan tekanan psikologis yang datang bersamaan dengan berbagai persoalan bisnis.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul dalam benak saya.
Mengapa sebagian orang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan, sementara sebagian lainnya tidak?
Saya tidak sedang membicarakan orang yang tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan berbisnis. Saya pernah melihat bagaimana seseorang bisa memiliki pengetahuan yang cukup baik, ide yang menarik, bahkan kesempatan yang menjanjikan, tetapi ketika dihadapkan pada kesulitan, dia tidak mampu bertahan cukup lama untuk melewatinya.
Sebaliknya, ada pula orang-orang yang mungkin tidak terlihat terlalu istimewa pada awalnya, tetapi memiliki kemampuan untuk terus mencoba, memperbaiki kesalahan, dan kembali bergerak meskipun berkali-kali menghadapi hambatan.
Dari situ saya mulai berpikir bahwa membangun bisnis ternyata tidak cukup hanya dengan menguasai pengetahuan teknis. Kita bisa mengikuti kelas pemasaran untuk mempelajari cara mendapatkan pelanggan, belajar keuangan untuk memahami laporan laba rugi, atau mengikuti pelatihan kepemimpinan untuk mengelola tim. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu kemampuan yang menurut saya tidak kalah penting dan justru sering kali menjadi penentu apakah seseorang mampu bertahan dalam perjalanan panjang membangun bisnis.
Kemampuan untuk tetap melakukan sesuatu yang perlu dilakukan, bahkan ketika kita sedang tidak ingin melakukannya.
Kita sering menyebutnya sebagai persistence dan consistency. Dua istilah yang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya ternyata tidak semudah mengucapkannya.
Lalu pertanyaannya, apakah kedua kemampuan tersebut bisa dilatih? Jika bisa, di mana sebenarnya tempat yang paling cocok untuk melatihnya?
Saya justru mulai menemukan jawabannya di gym.
Gym sebagai Tempat Latihan Mental
Ada satu hal menarik dari gym. Tempat ini tidak terlalu peduli dengan seberapa tinggi jabatan kita, berapa banyak karyawan yang kita miliki, atau seberapa besar omzet bisnis yang sedang kita jalankan.
Ketika kita berdiri di depan barbell dengan beban 60 kilogram, besi tersebut tetap memiliki berat 60 kilogram. Tidak peduli apakah hari itu bisnis sedang menghasilkan keuntungan besar atau justru sedang menghadapi banyak masalah.
Begitu pula ketika berlari di treadmill. Jika targetnya lima kilometer, kita tetap harus menempuh jarak tersebut dengan kaki kita sendiri. Tidak ada anak buah yang bisa kita delegasikan untuk berlari menggantikan kita, kemudian membuat tubuh kita mendapatkan manfaat latihan yang sama.
Dan yang paling menarik, kita tidak selalu datang ke gym dalam kondisi bersemangat.
Ada hari ketika tubuh terasa lelah, pekerjaan sedang menumpuk, atau rasanya lebih menyenangkan untuk tetap berada di rumah. Namun, ketika sudah memutuskan untuk datang dan mulai berlatih, biasanya perasaan tersebut perlahan berubah.
Saya mulai menyadari bahwa gym sebenarnya menyediakan sebuah lingkungan yang cukup unik. Kita secara sukarela datang ke suatu tempat untuk menghadapi kesulitan yang bisa saja kita hindari. Kita mengangkat beban yang membuat otot terasa lelah, berlari sampai napas menjadi berat, atau mengulang gerakan yang sama berkali-kali meskipun tidak selalu menyenangkan.
Anehnya, justru dari proses itulah tubuh kita beradaptasi.
Beban yang dahulu terasa berat perlahan menjadi lebih ringan. Jarak yang sebelumnya membuat kita kehabisan napas mulai bisa ditempuh dengan lebih nyaman. Tentu perubahan tersebut tidak terjadi hanya dalam satu atau dua kali latihan. Diperlukan pengulangan, peningkatan beban secara bertahap, serta waktu istirahat yang cukup agar tubuh bisa beradaptasi.
Hal ini membuat saya mulai melihat hubungan yang menarik dengan dunia bisnis.
Dalam membangun usaha, kita juga sering dihadapkan pada persoalan yang pada awalnya terasa sangat berat. Mulai dari menghadapi komplain pelanggan, menyelesaikan konflik dalam tim, mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, hingga menghadapi konsekuensi dari keputusan yang ternyata keliru.
Persoalan tersebut tentu tidak otomatis selesai hanya karena kita rajin pergi ke gym. Kemampuan berbisnis tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, serta proses pengambilan keputusan yang baik. Namun, saya merasa bahwa kebiasaan menghadapi kesulitan secara sukarela melalui latihan fisik mulai memengaruhi cara saya merespons tantangan-tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya menjadi lebih terbiasa dengan perasaan tidak nyaman. Ketika menghadapi persoalan yang cukup mengganggu, setidaknya saya memiliki pengalaman berulang bahwa sesuatu yang terasa berat tidak selalu harus dihindari. Terkadang kita hanya perlu mulai mengerjakannya, mengevaluasi hasilnya, kemudian mencoba kembali dengan pendekatan yang lebih baik.
Kalau badan saja sudah terbiasa kita ajak bekerja keras hampir setiap hari, rasanya ganjalan-ganjalan kecil dalam bisnis tidak perlu selalu diperlakukan seperti sebuah bencana besar.
Easy peasy lah.
Tentu bukan berarti semua masalah bisnis menjadi mudah. Ada persoalan yang konsekuensinya jauh lebih besar daripada kegagalan menyelesaikan satu set latihan. Akan tetapi, latihan fisik memberi saya ruang untuk membangun kebiasaan menghadapi ketidaknyamanan dalam lingkungan yang relatif terukur.
Saya kemudian mulai memandang gym bukan hanya sebagai tempat membentuk tubuh, tetapi juga sebagai salah satu sarana melatih ketahanan mental.
Sebuah mental gym.
Ketika Barbell Mulai Mengajarkan Bisnis
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan semakin banyak hubungan antara prinsip-prinsip latihan fisik dengan pengalaman membangun bisnis.
Misalnya, prinsip progressive overload. Dalam latihan kekuatan, kita tidak bisa berharap terus berkembang apabila tantangan yang diberikan kepada tubuh tidak pernah berubah. Tetapi meningkatkan beban juga harus dilakukan secara bertahap, sesuai kapasitas dan kemampuan pemulihan tubuh.
Saya melihat pola serupa dalam mengembangkan bisnis. Sebuah usaha perlu terus meningkatkan kapasitas agar dapat tumbuh, tetapi pertumbuhan yang terlalu agresif tanpa kesiapan sistem dan organisasi justru bisa membawa risiko yang besar. Pengalaman pernah memiliki banyak outlet, kemudian kehilangan sebagian besarnya, membuat saya semakin memahami pentingnya membedakan antara pertumbuhan dan kesiapan untuk menanggung pertumbuhan tersebut.
Ada pula pelajaran mengenai kegagalan. Di gym, tidak berhasil menyelesaikan repetisi sesuai target bukan berarti seluruh proses latihan menjadi sia-sia. Kita bisa mengevaluasi apakah bebannya terlalu berat, tekniknya kurang tepat, atau tubuh memang belum cukup pulih. Hasil latihan kemudian menjadi informasi untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki.
Dalam bisnis, saya juga mulai belajar memandang kegagalan dengan cara yang serupa. Bukan berarti kegagalan harus dirayakan atau dianggap sesuatu yang menyenangkan, tetapi setidaknya kita bisa berusaha mengubahnya menjadi informasi yang berguna agar kesalahan yang sama tidak terus-menerus terulang.
Kemudian ada persoalan konsistensi. Saya semakin menyadari bahwa kemajuan yang terlihat besar sering kali merupakan akumulasi dari berbagai aktivitas kecil yang dilakukan berulang kali. Di gym, satu kali latihan yang luar biasa berat belum tentu menghasilkan perubahan signifikan. Sebaliknya, latihan yang cukup baik dan dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang justru bisa membawa hasil yang jauh lebih berarti.
Hal yang sama berlaku dalam membangun bisnis. Sering kali bukan satu keputusan spektakuler yang menentukan keberhasilan, melainkan rangkaian keputusan kecil, perbaikan sistem, dan kebiasaan kerja yang dijalankan terus-menerus.
Bahkan ketika mulai mempelajari teknik latihan dengan lebih serius, saya menemukan sebuah analogi lain yang cukup menarik. Dalam dunia angkat beban terdapat istilah ego lifting, yaitu ketika seseorang terlalu sibuk mengejar angka beban yang besar sehingga mengabaikan kemampuan dan tekniknya sendiri.
Saya rasa hal serupa juga cukup sering terjadi dalam dunia bisnis. Ada kalanya seorang pengusaha terlalu ingin terlihat mampu mengerjakan semuanya sendiri, enggan meminta bantuan, atau merasa bahwa seluruh keputusan harus melewati dirinya. Padahal, kapasitas sebuah organisasi tidak seharusnya hanya ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang mampu ditanggung oleh pendirinya.
Semakin banyak hubungan yang saya temukan, semakin menarik pula proses latihan tersebut bagi saya. Aktivitas yang sebelumnya hanya bertujuan menjaga kesehatan perlahan menjadi kesempatan untuk melakukan observasi, menguji gagasan, dan merefleksikan berbagai pengalaman yang saya alami.
Kadang insight muncul ketika sedang mengangkat beban. Kadang ketika berlari cukup lama di treadmill, atau setelah menyelesaikan beberapa putaran berenang.
Dari catatan-catatan kecil itulah akhirnya muncul keinginan untuk mengumpulkan berbagai pembelajaran tersebut menjadi sebuah buku.
Lift, Learn & Lead
Saya ingin menjelaskan satu hal terlebih dahulu. Buku ini bukan panduan untuk membesarkan otot, menyusun program latihan, menghitung kalori, ataupun mendapatkan bentuk tubuh ideal. Untuk persoalan tersebut, tentu ada banyak pelatih dan ahli yang jauh lebih kompeten daripada saya.
Buku ini juga bukan buku teks bisnis yang akan mengajarkan rumus pasti untuk membangun perusahaan sukses. Saya sendiri masih terus belajar, masih membuat kesalahan, dan masih berusaha memperbaiki berbagai hal dalam bisnis yang sedang saya bangun.
Apa yang akan Anda baca adalah kumpulan cerita, observasi, dan refleksi seorang pengusaha yang menemukan bahwa berbagai prinsip dalam latihan fisik ternyata dapat menjadi cara yang menarik untuk memahami kehidupan, bisnis, serta kepemimpinan.
Saya merangkumnya ke dalam tiga bagian: Lift, Learn, dan Lead.
Lift berbicara mengenai kemampuan mengangkat beban dan meningkatkan kapasitas diri. Sebelum mampu mengambil tanggung jawab yang lebih besar, kita perlu mempersiapkan diri untuk menanggungnya. Seperti latihan kekuatan, proses ini membutuhkan tantangan, kedisiplinan, dan peningkatan kapasitas secara bertahap.
Learn adalah perjalanan belajar dari pengalaman, termasuk dari kesalahan dan kegagalan yang pernah kita alami. Sebab mengalami kegagalan saja tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita pelajari, apa yang kita ubah, dan bagaimana kita menggunakan pembelajaran tersebut ketika menghadapi tantangan berikutnya.
Sementara Lead membawa perjalanan ini keluar dari diri sendiri. Ketika kita mulai memimpin orang lain, ukuran keberhasilan tidak lagi sekadar seberapa berat beban yang mampu kita angkat sendiri. Ada tanggung jawab untuk membantu tim bertumbuh, membangun sistem yang dapat diandalkan, serta menciptakan organisasi yang tidak sepenuhnya bergantung kepada satu orang.
Ketiganya merupakan proses yang masih terus saya jalani. Saya tidak menulis buku ini karena merasa sudah berhasil menyelesaikan seluruh perjalanan tersebut, melainkan karena saya menemukan cukup banyak pelajaran menarik selama menjalaninya.
Saya berharap beberapa di antaranya juga dapat menjadi bahan refleksi bagi Anda, terlepas dari apakah Anda seorang pengusaha, pemimpin tim, karyawan, atau seseorang yang sedang berusaha meningkatkan kapasitas dirinya sendiri.
Dan tentu saja, Anda tidak harus menjadi anggota gym untuk mendapatkan manfaat dari berbagai gagasan dalam buku ini.
Mari Mulai dari Beban Pertama
Saya tidak tahu beban apa yang sedang Anda bawa ketika membuka buku ini. Mungkin sebuah bisnis yang sedang menghadapi kesulitan, tanggung jawab memimpin tim yang semakin besar, atau target pribadi yang sampai hari ini masih terasa sulit untuk dicapai.
Bisa juga Anda sedang berada dalam situasi yang cukup baik, tetapi merasa bahwa sebenarnya masih ada kapasitas diri yang belum dikembangkan secara maksimal.
Apa pun kondisinya, saya rasa kita tidak perlu menyelesaikan semuanya dalam satu hari.
Di gym, seseorang yang baru pertama kali berlatih tentu tidak harus langsung mampu mengangkat beban 150 kilogram. Dia perlu mengenali kapasitasnya, mempelajari teknik yang benar, kemudian meningkatkan tantangannya secara bertahap sambil memberikan kesempatan tubuh untuk beradaptasi.
Mungkin perjalanan membangun diri, bisnis, dan kepemimpinan juga bisa kita mulai dengan cara yang sama. Tidak perlu langsung menjadi orang paling kuat di ruangan. Tidak perlu pula berpura-pura bahwa kita sudah mengetahui jawaban dari semua persoalan.
Kita hanya perlu bersedia memulai, kemudian terus belajar sepanjang perjalanannya.
Let’s lift.
