THE PERSONAL JOURNAL OF PARIKESIT

ProfitParikesit

Ide, analisis, dan pengalaman membangun bisnis, tim, dan diri sendiri.

THINK · WRITE · BUILD

, ,

Bakar Kapalmu! Kata Para Motivator

Saya teringat perjalanan tahun 2007, naik kereta Prameks dari Solo ke Jogja. Waktu itu saya masih mengenakan seragam Pramuka karena bertepatan dengan tanggal 14 Agustus, Hari Pramuka. Alih-alih mengikuti upacara, saya bersama dua orang teman justru nekat bolos ke Jogja untuk mengikuti sebuah seminar bisnis.

Pembicaranya adalah dua orang pengusaha terkenal di Indonesia yang wajahnya sering berseliweran di media nasional, baik cetak maupun elektronik. Saya masih ingat beberapa teriakan khas yang sering digaungkan oleh para motivator bisnis pada masa itu. Mulai dari “Jangan takut jadi pengusaha!”, “Bakar kapalmu! Resign segera dari pekerjaanmu!”, sampai “Habiskan jatah gagalmu!”

Tentu kami langsung berapi-api. Saking terbakarnya, keesokan harinya kami langsung membuat bisnis tanpa terlalu memedulikan status kami yang saat itu masih sebagai siswa sebuah SMK di Solo. Namanya juga anak muda. Apalagi setelah mendengarkan kisah sukses para pengusaha, rasanya semua hal menjadi mungkin selama kita memiliki keberanian untuk memulai.

Namun, setelah lebih dari 15 tahun menjalani dunia bisnis, jika saya renungkan kembali nasihat-nasihat tersebut, ternyata perspektif saya sudah cukup banyak berubah. Bukan berarti apa yang disampaikan para motivator tadi sepenuhnya salah, tetapi hari ini saya tidak akan sembarangan mengucapkan kalimat yang sama kepada semua orang.

Ada cukup banyak orang yang bertanya kepada saya mengenai persoalan bisnis mereka. Ada yang ingin memulai usaha, ada yang sedang menghadapi masalah dalam bisnisnya, dan ada pula yang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan demi menjadi seorang pengusaha. Namun, sebelum memberikan jawaban ataupun rekomendasi mengenai langkah berikutnya, biasanya saya akan melihat beberapa faktor terlebih dahulu. Sebab keputusan yang tepat bagi seseorang belum tentu tepat bagi orang lain, sekalipun keduanya memiliki tujuan yang sama.

Misalnya, seseorang berusia 20-an yang belum memiliki tanggungan keluarga ingin keluar dari pekerjaannya untuk membangun bisnis. Dalam kondisi tertentu, mungkin dia bisa lebih berani mengambil risiko. Kalaupun gagal, toh dampaknya relatif masih bisa dia tanggung sendiri. Akan berbeda cerita jika seseorang sudah berusia 30-an, memiliki istri dan tiga anak yang harus dinafkahi. Apakah saya akan langsung menyarankan orang tersebut untuk resign dan membakar kapalnya? Tentu tidak.

Saya justru akan bertanya terlebih dahulu mengenai kondisi keuangannya. Berapa kebutuhan bulanan keluarga? Apakah anak-anaknya sudah sekolah? Apakah masih memiliki utang yang harus dilunasi? Berapa tabungan yang tersedia? Dan yang tidak kalah penting, apabila bisnisnya tidak menghasilkan pendapatan selama beberapa bulan, apakah keluarganya masih bisa bertahan?

Dari beberapa pertanyaan tersebut saja, jawabannya tentu bisa sangat bervariasi. Bahkan sebenarnya persoalannya bukan semata-mata tentang usia, melainkan mengenai seberapa besar tanggung jawab yang dimiliki dan kemampuan seseorang dalam menanggung konsekuensi dari keputusannya. Seseorang yang berusia 20 tahun pun bisa memiliki tanggungan besar, sementara seseorang yang berusia 40 tahun mungkin justru memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih siap untuk mengambil risiko.

Artinya, kita tidak bisa memberikan rekomendasi bisnis hanya berdasarkan besarnya semangat seseorang. Perlu dipahami pula kondisi dan kemampuan orang tersebut dalam menghadapi skenario terburuk. Karena ketika seseorang memutuskan untuk membangun bisnis, terkadang yang dipertaruhkan bukan hanya uang dan waktunya sendiri, tetapi juga kesejahteraan orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya.

Sebelas Kali Berbisnis, Sepuluh Kali Gagal

Selama perjalanan jatuh bangun membangun bisnis, ada satu insight yang semakin saya pahami, yaitu ternyata tidak semua orang memiliki daya tahan yang sama untuk bangkit dari sebuah kegagalan. Hal ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya cukup penting karena sering kali kita terlalu fokus membahas keberanian untuk memulai, sementara kemampuan menghadapi konsekuensi dari sebuah kegagalan justru tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Ketika kita menghadiri seminar bisnis, biasanya bagian yang paling menarik adalah cerita mengenai pencapaian seorang pengusaha. Omzet sekian miliar, jumlah karyawan yang mencapai ratusan orang, cabang yang tersebar di berbagai kota, dan berbagai pencapaian lainnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Kisah-kisah tersebut memang bisa menjadi sumber inspirasi, apalagi bagi anak muda yang baru mulai mengenal dunia bisnis seperti saya pada tahun 2007.

Namun, setelah menjalani sendiri perjalanan berbisnis, saya semakin menyadari bahwa ada sisi lain yang tidak kalah penting untuk dibicarakan, yaitu bagaimana seseorang menghadapi rasa sakit, rasa malu, dan tekanan psikologis ketika bisnisnya gagal. Kehilangan uang tentu tidak menyenangkan, tetapi terkadang persoalannya tidak berhenti pada kerugian finansial. Ada ekspektasi yang tidak terpenuhi, kepercayaan orang lain yang harus dipertanggungjawabkan, hingga berbagai persoalan yang tetap harus diselesaikan meskipun bisnisnya sudah tidak berjalan.

Dari pengalaman sebelas kali berbisnis dengan sepuluh kali kegagalan, saya mulai melihat bahwa salah satu hal yang membedakan seseorang yang mampu bertahan sebagai pengusaha dengan mereka yang akhirnya memilih jalan lain adalah daya tahannya dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Memiliki keberanian untuk memulai bisnis memang penting, tetapi keberanian saja belum tentu cukup untuk membuat seseorang mampu bangkit dan mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.

Karena itu, saya semakin memahami bahwa profesi pengusaha memang tidak untuk semua orang. Bukan karena profesi ini lebih hebat dibandingkan pekerjaan lainnya, melainkan karena setiap pekerjaan memiliki karakteristik dan konsekuensi yang berbeda. Menjadi pengusaha menuntut kesiapan untuk menghadapi ketidakpastian yang terkadang cukup besar, dan tidak semua orang harus memilih jalan tersebut untuk dapat memiliki kehidupan yang baik.

Jadi, Haruskah Kita Membakar Kapal?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa seseorang tidak boleh mengambil risiko atau harus menunggu seluruh kondisinya benar-benar ideal sebelum memulai bisnis. Kalau saya sendiri menggunakan cara berpikir seperti itu sejak awal, mungkin saya tidak akan pernah mencoba membangun bisnis ketika masih duduk di bangku SMK.

Hanya saja, sekarang saya melihat ada perbedaan antara keberanian mengambil risiko dengan keberanian yang tidak disertai pemahaman mengenai konsekuensinya. Nasihat untuk membakar kapal mungkin relevan dalam situasi tertentu, terutama ketika seseorang memang membutuhkan komitmen yang kuat untuk keluar dari zona nyamannya. Namun, saya rasa kita perlu berhati-hati ketika menjadikannya sebagai nasihat yang berlaku universal.

Sebab terkadang seseorang bukan kekurangan keberanian, melainkan memang sedang memiliki tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dalam kondisi seperti itu, mempersiapkan bisnis sambil tetap bekerja, membangun cadangan keuangan, atau menguji model bisnis dalam skala kecil mungkin justru merupakan keputusan yang lebih masuk akal dibandingkan langsung mengundurkan diri dari pekerjaan.

Setelah lebih dari 15 tahun berbisnis dan berkali-kali mengalami kegagalan, saya mulai memahami bahwa menjadi pengusaha tidak sesederhana memiliki keberanian untuk memulai. Ada rasa sakit, rasa malu, tekanan psikologis, serta konsekuensi finansial yang tidak selalu terlihat ketika kita sedang bersemangat mendengarkan sebuah seminar motivasi. Semua itu membuat saya semakin berhati-hati ketika memberikan rekomendasi kepada seseorang yang ingin memulai perjalanan bisnisnya.

Kalau dahulu saya mungkin akan ikut berteriak menyuruh orang membakar kapalnya, hari ini saya justru ingin mengetahui terlebih dahulu siapa saja yang berada di atas kapal tersebut. Sebab ketika seseorang mengambil keputusan untuk berbisnis, belum tentu hanya dirinya sendiri yang harus menanggung konsekuensi jika kapal itu tenggelam.

Lalu, bagaimana cara meningkatkan daya tahan banting seseorang untuk menghadapi kegagalan dalam berbisnis? Menurut saya, ini merupakan pembahasan tersendiri yang cukup menarik untuk kita lanjutkan pada tulisan berikutnya.

See you on the top.


Tentang Saya

Persistent Stupid Businessman.

11 kali berbisnis, 10 kali gagal.

Masih terus belajar, mencoba, membuat kesalahan, dan memperbaikinya.

Saat ini sedang membangun Sofdoh, mengembangkan diri, dan mendokumentasikan pelajaran tentang bisnis, kepemimpinan, AI, buku, serta kehidupan.

Bukan karena sudah tahu banyak, tetapi karena masih banyak yang ingin dipahami.


Cari Tulisan

Jelajahi Topik

Arsip